Kamis, 27 September 2012

STRATEGI PEMBELAJARAN PENINGKATAN KEMAMPUAN BERFIKIR



BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Sebagai seorang guru merupakan suatu keharusan untuk mengerti dan memahami bagaimana pola dan tatacara untuk menyampaikan pengajaran didalam kelas (strategi pembelajaran).  
Terkadang hal ini dianggap remeh karena kita berpikir mengajar itu pada prakteknya dilakukan dengan mengandalkan kreativitas dan terjadi dengan sendirinya, otomatis mengalir/terjadi alias tanpa konsep. Namun suatu proses penyampaian pengajaran yang terkonsep dan memiliki metode yang baik didalam kelas dapat membentuk suasana yang kondusif dan pada akhirnya menentukan tingkat keberhasilan proses pembelajaran agar mencapai tujuan utamanya, yaitu agar peserta didik yang diampu dapat mengerti dan memahami materi yang diajarkan oleh guru.
Sebenarnya tanpa kita sadari kita sudah pernah mengalami hal ini, yaitu pada saat dulu kita mengenyam pendidikan mulai dari sekolah dasar sampai dengan tingkat sekolah menegah atas disekolah, walaupun pada saat itu kita merupakan obyek dari strategi pembelajaran yang dibuat oleh guru kita pada saat itu.
Menyadari kenyataan seperti ini para ahli berupaya untuk mencari dan merumuskan strategi yang dapat merangkul semua perbedaan yang dimiliki oleh anak didik. Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.


POKOK MASALAH
Pada prakteknya penerapan proses belajar mengajar kurang mendorong pada pencapaian peningkatan kemampuan berpikir secara kritis. Dua faktor penyebab berpikir kritis tidak berkembang selama pendidikan adalah kurikulum yang umumnya dirancang dengan target materi yang luas sehingga guru lebih terfokus pada penyelesaian materi dan kurangnya pemahaman guru tentang metode pengajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir secara lebih kritis (Anderson et al., 1997; Bloomer, 1998; Kember, 1997 Cit in Pithers RT, Soden R., 2000).

TUJUAN
Penyusunan makalah ini bertujuan:
1.      memberikan pemahaman lebih luas bagaimana merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan menerapkan strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berfikir;
2.      mendorong peningkatan mutu pendidikan melalui proses pembelajaran yang efektif.
.











BAB II
PEMBAHASAN
Strategi adalah cara atau usaha yang dilakukan untuk mencapai sesuatu. Strategi pembelajaran menurut Romiszowski merupakan pandangan dan alur kegiatan yang digunakan orang dalam memilih metode pembelajaran. Ini sejalan dengan definisi yang dikemukakan oleh Worrel dan Stilwell yang mengatakan bahwa strategi pembelajaran adalah penerapan perencanaan dan metode pembelajaran untuk membantu mahasiswa mencapai tujuan pembelajaran (Worel, Judith dan Stilwell, 1981:234). Dick dan Carey mengatakan bahwa strategi pembelajaran adalah komponen-komponen umum dari suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang akan dipergunakan bersama-sama materi tersebut (Walter Dick dan Lou Carey, 1996:106). Sedangkan  Gerlach   dan   Ely  mengemukakan  bahwa strategi  pembelajaran sebagai pendekatan pengajar terhadap penggunaan informasi (Erman S. Gerlach dan Donal P. Ely, 1971:14). Dikemukakan juga oleh Kemp bahwa strategi pembelajaran adalah kegiatan belajar mengajar, yang berarti apa yang harus dikerjakan pengajar dan mahasiswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien (Kempt, 1977: 6-10).
Menurut Suparman strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan dan cara pengorganisasian materi pelajaran, mahasiswa, peralatan, bahan, dan waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan (Suparman, 1999:157).
Reigeluth, Bunderson dan Merill seperti yang dikutip Degeng (1989) mengemukakan tiga bagian strategi pembelajaran, yaitu: 1). Strategi pengorganisasian yang mengacu pada cara untuk membuat urutan dan mensintesis dari fakta, konsep, prosedur dan prinsip yang berkaitan, 2). Strategi penyampaian yang mengacu pada cara yang dipakai untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada si belajar dan sekaligus untuk menerima dan merespon masukan dari si belajar, dan 3). Strategi pengelolaan yang mengacu pada penjadwalan penggunaan strategi, pembuatan catatan kemajuan mahasiswa, pengelolaan motivasional dan kontrol belajar (I nyoman Sudana Degeng, 1989:14).
Gagne dan Briggs (1979) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran terdiri dari sembilan urutan kegiatan pembelajaran, yaitu;
1). Memberikan motivasi atau menarik perhatian mahasiswa
2). Menjelaskan tujuan pembelajaran kepada mahasiswa
3). Mengingatkan kompetensi prasyarat
4). Memberi stimulus dengan menyajikan materi pembelajaran
5). Memberi petunjuk belajar
6). Menimbulkan penampilan mahasiswa
7). Memberi umpan balik
8). Menilai penampilan
9). Menyimpulkan (Gagne dan Briggs, 1992:20).
Kesembilan urutan kegiatan itu tidak semuanya diperlukan dalam proses belajar mengajar tergantung dari karakteristik mahasiswa dan jenis perilaku yang akan dicapai dalam pembelajaran itu. Sejalan dengan pendapat tersebut, Suparman menyatakan bahwa stategi pembelajaran terdiri dari empat komponen urutan, yaitu:
1). Urutan kegiatan
2). Metode Pembelajaran
3). Media Pembelajaran
4). Waktu.
Dick dan Carey mengemukakan lima komponen utama dari suatu strategi pembelajaran, yaitu:
1). Kegiatan prapembelajaran
2). Presentasi informasi
3). Partisipasi mahasiswa
4). Pengujian
5). Kegiatan lanjutan (Walter Dick, Lou Carey, 1996:184).
Komponen-komponen ini merupakan rangkaian kegiatan yang berlangsung mulai dari sebelum penyajian materi pelajaran sampai dengan sesudah materi penyajian.
Dari teori-teori di atas dapat disarikan bahwa pada hekekatnya strategi pembelajaran adalah salah satu ketrampilan yang harus dimiliki oleh pengajar. Strategi pembelajaran merupakan bagian dari sistem pembelajaran yang menjelaskan komponen umum dari suatu set bahan  pembelajaran  dan prosedur yang digunakan bersama  bahan tersebut untuk menghasilkan hasil belajar tertentu pada mahasiswa. Selanjutnya konsep tentang strategi pembelajaran yang telah diuraikan di atas dapat diadaptasi dan diterapkan dalam cara penyampaian perkuliahan Graf, dan merupakan pijakan untuk diterapkan dalam merancang pembelajaran bermedia komputer dalam penelitian ini.
Berpikir adalah kegiatan yang menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan atau memutuskan sesuatu. Cara berpikir sangat ditentukan oleh perkembangan kognisi seseorang.
Menurut Piaget struktur intelek berkembang melalui empat tahap, yaitu:
1). Tingkat sensor motorik, yaitu pada usia 0 - 2 tahun
2). Tingkat pra-operasional, yaitu pada usia 2-7 tahun
3). Tingkat kongkrit biasanya pada usia 7 - 11 tahun
4). Tingkat operasi formal, yaitu usia 11 - 15 tahun dengan masing-masing periode merupakan lanjutan dari periode sebelumnya (Wadsworth, 1989:25).
Sama halnya dengan Piaget, Joyce dan Weil mengemukakan  dengan tingkat yang lebih rinci lagi, yaitu:
1). Tingkat sensorimotor 0 - 2 tahun
2). Tingkat pra-operasional 2 - 7 tahun, yang terbagi dalam dua tingkat, yaitu;
a). Berpikir pra-konseptual 2 - 4 tahun
b). Berpikir intuitif 4 -  7 tahun
3). Tingkat operasional 7 - 16 tahun, ini juga terbagi dalam dua tingkatan, yaitu;
     a). Tingkat operasi kongkrit 7 - 11 tahun
  b). Ttingkat operasi formal 11 - 16 tahun (Bruce Joyce dan Marsha Weil, 1980:180).
Definisi yang lebih jelas lagi dikemukakan Ausebel dan Robinson (Ausebel. & Robinson, 1973:180) dengan menyatakan bahwa tahap perkembangan menunjukkan suatu urutan phase perkembangan yang makin meningkat yang secara kualitatif dapat dibedakan dari tiap tahap berikutnya dan pada umumnya berhubungan dengan kelompok umur. Ausebel membedakan tiga tahap yang berbeda secara kualitatif, yaitu:
1). Tahap pre-operasional
2). Tahap operasi logika konkret
3). Tahap operasi logika abstrak.
Masing-masing tahap berlaku untuk subyek pra-sekolah, sekolah dasar dan untuk remaja dan atau orang dewasa. Namun demikian tidaklah beralasan menghadapkan tiap tahap harus dicapai pada umur yang sama dalam tiap kultur, karena itu laju perkembangan paling sedikit bergantung pada rangsangan lingkungan pada umumnya.
Jenis-Jenis Berpikir
Dalam berpikir orang mengolah, mengorganisasikan bagian-bagian dari pengetahuannya, sehingga pengalaman-pengalaman dan pengetahuan yang tidak teratur menjadi tersusun merupakan kebulatan-kebulatan yang dapat dikuasai atau dipahami. Dalam hal ini orang dapat mendekati masalah ini dengan beberapa cara yaitu sebagai berikut.
1) Berpikir Induktif
Berpikir Induktif ialah suatu proses dalam berpikir yang berlangsung dari khusus menuju kepada yang umum. Orang mencari ciri-ciri atau sifat-sifat yang tertentu dari berbagai fenomena, kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan bahwa ciri-ciri atau sifat-sifat itu terdapat pada semua jenis fenomena. Beberapa sebagai penjelasan : Seorang ahli psikologi mengadakan penyelidikan dengan observasi bayi A setelah melahirkan segera menangis, bayi B juga begitu, bayi C,D,E,F disebut demikian pula.
Kesimpulan : Semua bayi yang normal segera menangis pada waktu dilahirkan, seorang guru melakukan eksperimen-esperimen menanam biji-bijian bersama murid-muridnya, jagung ditanam tumbuh keatas, kacang tanah tumbuh keatas juga. Kesimpulan : “Semua batang tanaman tumbuhnya keatas mencari sinar matahari”
Tepat atau tidaknya kesimpulan (cara berpikir) yang diambil secara induktif ini terutama tergantung pada representatif, dan makin besar pula taraf dapat dipercaya (validitas) dari kesimpulan itu ; dan sebaliknya. Taraf validitas kebenaran kesimpulan itu masih ditentukan pula oleh objektivitas dari si pengamat dan homogenitas dari fenomena-fenomena diselidiki.
2) Berpikir Deduktif
Sebaliknya dari berpikir induktif, maka berpikir deduktif prosesnya berlangsung dari yang umum menuju kepada yang khusus. Dalam cara berpikir ini, orang bertolak dari suatu teori ataupun prinsip ataupun kesimpulan yang dianggapnya benar dan sudah bersifat umum.
Dari situ ia menerapkannya kepada fenomena-fenomena yang khusus, dan mengambil kesimpulan yang khusus yang berlaku bagi fenomena tersebut.
Contoh :
Manusia semua akan mati (kesimpulan umum)
Jamilah adalah manusia (kesimpulan khusus)
Jamilah akan mati (kesimpulan deduksi)
3) Berpikir Analogis
Analogis berarti perasaan atau perbandingan. Berpikir analogis adalah berpikir dengan jalan menyamakan atau memperbandingkan fenomena-fenomena yang biasa atau pernah dialami. Didalam cara berpikir ini, orang beranggapan bahwa dari fenomena-fenomena yang pernah dialami berlaku pula bagi fenomena yang dihadapi sekarang.
Kesimpulan yang diambil dari berpikir analogis ini kebenarannya lebih kurang dapat dipercaya. Kebenarannya ditentukan oleh Faktor “Kebetulan” dan bukan berdasarkan perhitungan yang tepat, dengan kata lain : Validitas kebenarannya sangat rendah.
Hasil-hasil Penyelidikan Tentang Berpikir
Beberapa pendapat dari penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan oleh ahli-ahli Psikologi terhadap proses berpikir manusia.
a) Oswald Kuipe dengan rekan-rekannya, setelah mengadakan eksperimen-eksperimen terhadap mahasiswa yang menggunakan instropeksi-eksperimental, mendapat kesimpulan :
1. Bahwa didalam diri manusia terdapat adanya gejala-gejala psikis yang tidak dapat diragukan. Disamping kesan-kesan dan tanggapan-tanggapan yang diperoleh dengan alat indra masih ada gejala-gejala yang lebih abstrak dan tidak dapat diragukan.
2. Bahwa pada waktu berpikir, aku dan pribadi orang itu memegang peranan yang penting. Si “Aku” bukanlah faktor yang fasip, melainkan faktor yang mengemudikan semua pembuatan sadar.
3. Bahwa berpikir mempunyai arah tujuan (determine rende tendens). Arah tujuan berpikir dipengaruhi oleh masalah yang harus dipecahkan.
b) Frohn dan kawan-kawan, setelah menyelidiki bagaimana proses dan perkembangan berpikir pada anak-anak yang bisu, tuli dan membandingkan dengan anak-anak yang normal, mengambil kesimpulan sebagai berikut:
Berpikir ialah bekerja dengan unsur-unsur abstrak dan bergerak kearah yang ditentnkan oleh masalah yang dihadapi.
Pada anak-anak kecil, berpikirnya dipengaruhi oleh tanggapan-tahapan yang konkret yang pernah diamatinya. Sedangkan anak-anak bisu, tuli tidak dapat menyusun pengertian karena perkembangan bahasanya terhambat.
c) Otto Selz dan Willwoll
Dalam proses berpikir mereka mengambil kesimpulan sebagai berikut:
Selz mengatakan bahwa tanggapan-tanggapan konkret tidak mempunyai pengaruh sama sekali / hanya sedikit sekali pengaruhnya dalam proses berpikir. Tanggapan konkret tidak amat melancarkan dan tidak pula amat merintangi jalannya berpikir.
Willwoll mengatakan bahwa tanggapan-tanggapan konkret dapat mengganggu dan menghambat jalannya berpikir.
Berhubungan kesimpulan Selz tersebut Prof. Kohnstam menyatakan bahwa belajar berpikir adalah mempelajari (mengenal) cara menggolong-golongkan pengalaman-pengalaman yang ada dalam jiwa.
d) Hasil penyelidikan berpikir berpengaruh besar terhadap perbaikan cara-cara mendidik dan mengajar di sekolah. Dalam mendidik dan mengajar, pendidik tidak cukup hanya mengisikan pengetahuan atau tangapan-tanggapan yang banyak ke dalam otak anak-anak. Anak harus diajar berpikir dengan baik supaya anak dapat berpikir dengan baik, kita perlu memberikan :
1. Pengetahuan siap yakni pengetahuan pasti yang sewaktu-waktu siap untuk dapat dipergunakan seperti, hafal tentang abjad.
2. Pengertian yang berisi/yang mengandung arti dan benar-benar dimengerti oleh anak.
3. Melatih kecakapan membentuk skema, yang memungkinkan berpikir secara teratur.
4. Soal-soal yang mendorong anak untuk berpikir.
Pendekatan belajar yang diperlukan dalam meningkatkan pemahaman terhadap materi yang dipelajari dipengaruhi oleh perkembangan proses mental yang digunakan dalam berpikir (perkembangan kognitif) dan konsep yang digunakan dalam belajar. Perkembangan merupakan proses perubahan yang terjadi sepanjang waktu ke arah positif. Jadi perkembangan kognitif dalam pendidikan merupakan proses yang harus difasilitasi dan dievaluasi pada diri siswa sepanjang waktu mereka menempuh pendidikan. Rath et al (1966) menyatakan bahwa salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kemampuan berpikir s adalah interaksi antara pengajar dan siswa. siswa memerlukan suasana akademik yang memberikan kebebasan dan rasa aman bagi siswa untuk mengekspresikan pendapat dan keputusannya selama berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran.
Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir Merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada kemampuan berpikir siswa. Materi pelajaran tidak disajikan begitu saja kepada siswa, tetapi siswa dibimbing untuk menemukan sendiri konsep yang harus dikuasi melalui proses dialogis yang terus-menerus dengan memanfaatkan pengalaman siswa.
Dalam strategi peningkatan kemampuan berfikir, materi pelajaran tidak disajikan begitu saja kepada peserta didik. Akan tetapi, peserta didik dibimbing untuk menemukan sendiri melalui proses dialog dengan memanfaatkan pengalaman peserta didik. strategi peningkatan kemampuan berfikir adalah model pembelajaran yang bertumpu pada pengembangan kemampuan berpikir, dimana tujuan yang ingin dicapai dengan strategi peningkatan kemampuan berfikir adalah peserta didik bukan sekedar menguasai materi pelajaran, tetapi bagaimana mengembangkan gagasan dan ide melalui bahasa verbal. strategi peningkatan kemampuan berfikir bukan model pembelajaran yang hanya menuntut peserta didik sekadar mendengar dan mencatat, tetapi menghendaki aktivitas peserta didik dalam proses berpikir.
Sebagai strategi pembelajaran yang diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir, strategi peningkatan kemampuan berfikir memiliki tiga karakteristik sebagai berikut:
1.      Proses pembelajaran strategi peningkatan kemampuan berfikir menekankan pada prsoes mental peserta didik secara maksimal. strategi peningkatan kemampuan berfikir bukan model pembelajaran yang hanya menuntut peserta didik untuk sekedar mendengar dan mencatat tetapi menghendaki aktivitas peserta didik  dalam proses berpikir.
2.      Strategi peningkatan kemampuan berfikir dibangun dalam nuansa dialogis dan proses tanya jawab secara terus-menerus.
3.      Strategi peningkatan kemampuan berfikir adalah model pembelajaran yang menyandarkan kepada dua sisi yang sama pentingnya, yaitu proses dan hasil belajar. Proses belajar diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir, sedangkan sisi hasil belajar diarahkan untuk mengkontruksi pengetahuan.


















BAB III
ANALISA



Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir adalah model pembelajaran yang bertumpu kepada pengembangan kemampuan berpikir siswa melalui telaah fakta atau pengalaman anak sebagai bahan untuk memecahkan masalah.
Perbedaan pokok antara Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir dengan pembelajaran yang selama ini banyak dilakukan guru, antara lain:
1.   Strategi peningkatan kemampuan berfikir menempatkan siswa sebagai subjek belajar, artinya siswa berperan aktif dalam proses belajar dengan cara menggali pengalaman sendiri; sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif.
2.  Strategi peningkatan kemampuan berfikir mengaitkan pembelajaran dalam kehidupan nyata melalui pengalaman siswa; dalam pembelajaran konvensional bersifat teoritis dan abstrak.
3. Strategi peningkatan kemampuan berfikir membangun perilaku atas kesadaran diri, dalam pembelajaran konvensional perilaku dibangun atas proses kebiasaan.
4. Dalam strategi peningkatan kemampuan berfikir, kemampuaan didasarkan atas penggalian pengalaman; dalam pembelajaran konvensional kemampuan diperoleh melalui latihan-latihan.
5. Tujuan akhir proses pembelajaran strategi peningkatan kemampuan berfikir adalah kemampuan berpikir yang menghubungkan pengalaman dengan kenyatan; dalam proses pembelajaran konvensional tujuan akhir adalah penguasaan materi pembelajaran.
6. Strategi peningkatan kemampuan berfikir membangun perilaku atas kesadaran diri sendiri, misalnya siswa tidak melakukan suatu tindakan karena ia sadar bahwa perilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat; sedangkan dalam pembelajaran konvensional perilaku siswa didasarkan faktor dari luar dirinya, misalnya siswa tidak melakukan sesuatu disebabkan takut hukuman.
7. Dalam strategi peningkatan kemampuan berfikir, pengetahuan yang dimiliki siswa selalu berkembang sesuai pengalamannya, oleh sebab itu setiap siswa bisa berbeda dalam memaknai pengetahuan yang dimilikinya. Dalam pembelajaran konvensional, hal ini tidak mungkin terjadi, kebenaran yang dimiliki bersifat absolut dan final, oleh karena pengetahuan dikonstruksi oleh orang lain.
8. Tujuan yang ingin dicapai oleh strategi peningkatan kemampuan berfikir adalah kemampuan berpikir siswa, maka kriteria keberhasilan ditentukan oleh proses dan hasil belajar; dalam pembelajaran konvensional keberhasilan pembelajaran hanya diukur dari tes.

























BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN
Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir Merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada kemampuan berpikir siswa. Materi pelajaran tidak disajikan begitu saja kepada siswa, tetapi siswa dibimbing untuk menemukan sendiri konsep yang harus dikuasi melalui proses dialogis yang terus-menerus dengan memanfaatkan pengalaman siswa.
strategi peningkatan kemampuan berfikir adalah model pembelajaran yang bertumpu pada pengembangan kemampuan berpikir, dimana tujuan yang ingin dicapai dengan strategi peningkatan kemampuan berfikir adalah peserta didik bukan sekedar menguasai materi pelajaran, tetapi bagaimana mengembangkan gagasan dan ide melalui bahasa verbal. strategi peningkatan kemampuan berfikir bukan model pembelajaran yang hanya menuntut peserta didik sekadar mendengar dan mencatat, tetapi menghendaki aktivitas peserta didik dalam proses berpikir.


SARAN
Banyak metode dari strategi pembelajaran yang dapat digunakan unt meningkatkan kemampuan siswa salah satunya adalah dengan menggunakan strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berfikir. Guru diharapkan untuk lebih mengenal & memahami strategi yang paling bermamfaat bagi dirinya yang disesuaikan dengan tempat dimana guru tersebut mengajar.









BAB V
DAFTAR PUSTAKA
____________ How to Make Achievement Test and Assesment, Fith Edition, Boston: Allyn and Bacon, 1977
Gredler, Margareth E. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: Seri Pustaka Teknologi Pendidikan No 11, CV, Rajawali dan PAU Universitas Terbuka, 1991
Maksan, Marjusman, ” Pengetahuan Sintaksis dan Semantik, Kemampuan Berpikir Abstrak, dan Penalaran Verbal Sebagai Determinan Kemampuan Membaca Pemahaman Sebuah Survey Di Perguruan Tinggi Sumatra Barat” Disertasi. Jakarta, FPS IKIP Jakarta, 1989
Palasek. K, Brain Issues in the Schools, http : // www. Carolinajournal.com  / Exclusive/display_exluive.htm
Suparno, A. Suhaenah. Membangun Kompetensi Belajar. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdiknas, Jakarat, 2000.
Suryabrata, Sumadi. Pengembangan Alat Ukur Psikologi. Yogyakarta: Andi, 2000.
________________, Psikologi Pendidikan . Jakarta : PT RajaGrasindo, 1995
Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung Penerbit PT Remaja Rosdakarya, 2001.
Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Penerbit BP. Panca Usaha, 2003


[1]   Sanjaya, W (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta. Kencana Prenada Media Group
[2]   Proyek Development for Undergraduate Education (DUE) -  Like Universitas Indonesia (2002). Panduan Pelaksanaan Collaborative Learning & Problem Based Learning. Depok: Universitas Indonesia

KETERANGAN :
POKOK BAHASAN :
Ø   MATERINYA USIA PRODUKTIF PENDUDUK
Ø   MENEKANKAN KEMAMPUAN BERFIKIR SISWA
Ø   JOYCE AND WEI (1990) COGNITIVE GROWTH : INCREASING THE CAPACITY TO THINK
Ø   FILOSOFIS : ALIRAN RASIONALIS & EMPIRIS
Ø   LANDASAN PSIKOLOGIS KOGNITIF
Ø   STUDENT CENTERED LEARNING
Ø   PETER REASON (1981) THINKING ADALAH PROSES MENTAL SSO YANG LEBIH DARI SEKEDAR REMEMBERING & COMPREHENDING

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar